Juara 1 : Aldan Wardhana
Kelas 3C
Judul Karya : Lihatlah Dirimu
Hasil Karya :


Dingin. Entahlah. Sepertinya sebentar lagi akan turun hujan. Angin hari ini sangatlah kencang. Matahari pun sudah tidak terlihat sore ini. Hanya ada aku dan diriku di dalam sana.
Senin, 4 Januari 1999.
Liburan semesterku sudah selesai. Aku harus masuk sekolah. Aku bangun di jam 04:00. Melaksanakan sholat shubuh, lalu mempersiapan diri untuk sekolah. Di saat aku sudah mempersiapkan semuanya, Ibu menghampiriku.
“Djie, Bapak manggil kamu, di teras. “
“Memangnya ada apa Bu?” Ucapku penasaran.
“Udah sana samperin aja, Bapak mau bicara sama kamu kayaknya.”
“Baiklah.” Aku berjalan menghampiri Bapak dengan perasaan heran. Jarang sekali Bapak ingin bicara denganku. Biasanya Bapak lebih banyak diam. Juga biasanya terlalu sibuk bekerja, pulang ke rumah dengan keadaan lelah, untuk kemudian terlelap di sofa. Aku sudah berada di luar, melihat Bapak yang sedang bersandar di kursi kayu panjangnya dengan tatapan kosong. Di meja depan kursinya itu tersedia dua gelas teh manis yang masih hangat buatan Ibu.
“Djie, sini duduk disamping Bapak.” Ucap Bapak yang langsung mengalihkan perhatiannya kepadaku.
Aku segera duduk di sampingnya. Lenggang sejenak. Berkutat dengan pikiran masing-masing. Kemudian Bapak mulai berbicara.
“Djie, Bapak udah tua. Gampang capek. Bapak berharap rasa lelah Bapak ini bisa hilang dengan rasa bangga Bapak terhadap kamu. Kamu udah masuk SMA, lebih serius lagi. Bapak kemarin liat rapor kamu yang semester satu di SMA ini, masih sama kayak saat kamu masih SMP. Nilai KKM semua. Bapak berharap kamu sukses nanti kedepannya, mendapat masa depan yang baik. Cuma itu mau Bapak.”
“Ya, mau bagaimana lagi Pak, Adjie udah usaha dan itu hasilnya.”
“Lagian aku udah pernah coba belajar serius, tapi hasilnya aku malah pusing, Pak. Menghapal kaidah pelajaran bahasa, menghapal rumus matematika. Capek banget, Pak.” Tambahku kepada Bapak.
“Itu bukan hasil nak, itu proses. Bapak kerja juga capek, Nak. Sama kayak kamu.” Bapak menghela napas. Kemudian melanjutkan. “Tapi itulah proses. Hasilnya Bapak dapet bayaran. Percayalah, Nak, Bapak juga kadang pengen berhenti buat kerja karena tubuh Bapak ini yang sudah semakin tua, gaji yang tidak terlalu besar. Tetapi Nak, ada banyak alasan untuk mengakhiri tetapi hanya perlu satu alasan untuk tetap melanjutkan, alasan Bapak untuk terus melanjutkan adalah demi keluarga kecil kita ini nak.”
“Iya Pak. Aku akan sukses dan membuat Bapak bangga.” Ucapku pada Bapak saat itu.
Tetapi di hari itu tidak ada niat dalam diriku untuk belajar lebih serius. Aku ingin nantinya aku menjadi sukses dan membanggakan Bapak tetapi tidak dengan usaha serius, tidak dengan kerja keras. Aku hanya meyakini bahwa sukses itu tidak juga perlu kerja keras, dan sekarang aku sadar apa yang kulakukan hanya sia sia dan membuang waktu.
Kamis, 7 Februari 2002.
Benci rasanya melihat diriku yang seperti ini. Mencoba lari dari kehidupan, harapan Bapak gagal kucapai. Selama ini aku hanya berangan-angan. Setelah lulus SMA aku tidak kuliah. Alasannya tentu karena biaya. Bodoh sekali aku dulu tidak tahu yang namanya beasiswa. Dengan itu aku tidak perlu masuk kuliah dengan mengeluarkan biaya. Tetapi beasiswa didapatkan hanya untuk orang yang mendapat nilai tinggi. Sementara aku. Nilaiku jeblok peringkat 2 dari bawah.
Aku lelah mencari kerja kesana kemari tidak dapat dapat. Aku berharap hari ini aku bisa memberi keluargaku kabar baik. tetapi nampaknya tidak ada satupun yang akan akan mereka dapatkan.
Pukul setengah tiga siang. Aku sedang berjalan menuju rumah. Seorang temanku memanggil, berteriak.
“Djie!! Bapakmu meninggal!!”
Aku yang mendengarnya langsung segera pergi berlari. Bukan menuju rumah, tetapi menuju tempat yang tidak pasti, Jarakku semakin jauh dari rumah.
Pikiranku penuh dengan pertanyaan.
Apa yang terjadi pada Bapak?
Apakah Bapak meninggal karena aku yang seperti ini?
Beban yang kupikul sangatlah berat. Jika Bapak sudah meninggal berarti Aku yang akan menjadi tulang punggung keluarga, Aku yang akan mengurusi Ibu. Sementara diriku saja seperti ini.
Aku berhenti di sebuah danau. Aku lelah. Kuputuskan untuk beristirahat di tepi danau. Aku hanya duduk merenung meratapi nasibku. Sudah satu jam aku duduk di sini. Ingin kutenggelamkan kepalaku, tapi rasanya ragu.
Aku mendekat ke danau itu, aku melihat bayangan diriku di dalam danau.
Angin berhembus kencang. Matahari pun sudah tidak terlihat sore ini. Sepertinya akan turun hujan. Aku melihat pantulan diriku yang ada danau. Melihat wajah seseorang yang penuh dengan kegagalan. Entah kenapa Aku tiba-tiba mengingat obrolanku bersama Bapak. Aku mengingat-ingat percakapan itu. Sampai-sampai teh yang disediakan Ibu di meja tidak sempat aku minum karena larut dalam perbincangan masih kuingat.
Angin semakin kencang. Membawa kalimat itu. Memekakkan telinga. Padahal tak ada yang benar-benar berbicara.
Ada banyak alasan untuk mengakhiri tetapi hanya perlu satu alasan untuk terus melanjutkan.
Banyak hal yang membuatku berhenti dan menyerah, tetapi ada alasan untuk terus berjalan.
Ibu.
Apa yang dirasakan Ibu ketika mengetahui anak semata wayang nya bunuh diri di tempat seperti ini.
Aku akan terus melanjutkan hidup entah sepahit apa hidupku. Aku akan terus berjuang dan bersemangat menjalani ini seperti Bapak. Alasannya hanya satu. Keluarga.
Apa yang kuhadapi ini bukanlah hasil, tetapi sebuah proses yang harus dihadapi. Apapun hasil dari sebuah proses ini hanya Tuhan yang tahu. Aku hanya memohon kepada Tuhan agar mendapatkan hasil yang baik. Aku kembali ke rumah, melihat Bapak yang sudah terbungkus kain kafan. Ada Ibu disampingnya. Aku segera berlari dan memeluk dirinya. Aku berkata, bahwa aku yang akan melanjutkan perjuangan Bapak. Kalimat yang bapak ajarkan sangat berarti bagiku.
*** *** ***
Juara 2 : Raihan Nur Hafidz
Kelas 3A
Judul Karya : Senja Yang Memeluk Luka
Hasil Karya :


“O Tuhan… mengapa aku selalu ditimpa beban dan masalah? Hidup ini tidak adil!”
Aku keluar dari kosanku, berjalan tanpa arah. Berharap menemukan sedikit ketenangan dari seluruh tekanan yang menumpuk di kepalaku.
Entah berapa lama aku melangkah hingga langkahku terhenti di sebuah pantai, tak terlalu jauh dari tempat tinggalku. Ini sore hari, sehingga tidak banyak orang mengunjungi pantai ini lagi. Aku menuju ke dermaga, duduk di salah satu teras kayu tersebut.
Lamunanku di atas dermaga tak sengaja melihat pemandangan matahari yang perlahan tenggelam. Sinarnya membentang panjang di permukaan air, sementara suara ombak lembut mengisi suasana. Tidak ada lagi riuh tawa anak-anak yang biasanya memenuhi pantai, hanya ada senja, ombak, dan pikiranku sendiri.
Melihat hal itu mengingatkanku bahwa dunia ini tidak sepenuhnya tentang beban dan masalah. Ada waktunya kita berhenti sejenak, mengambil jarak dari semua yang menyesakkan. Bagaikan matahari yang setiap pagi bekerja keras menyinari dunia, namun tetap membutuhkan waktu untuk tenggelam dan beristirahat di malam hari.
Dadaku terasa hangat sekaligus perih. Aku lupa terhadap begitu banyak rezeki yang sudah diberikan. Aku terlalu sibuk memikirkan masalah sampai lupa terhadap nikmat yang sebenarnya selalu ada di sekelilingku. Aku selalu mengeluh terhadap setiap masalah dan beban, padahal Rabb telah berfirman, “Sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan.”
Angin sore menyapu wajahku, menepuk lembut, dan berkata, “Sudah, cukup. Istirahatlah sebentar.”
Perlahan, rasa sesak itu berubah menjadi penyesalan. Penyesalan karena terlalu sering mengeluh, hingga lupa menatap ke arah cahaya. Aku merasa seperti sedang dipeluk oleh suasana, yang sederhana namun menenangkan ini.
Matahari semakin turun. Warna langit berubah menjadi jingga keemasan, memantul indah di atas permukaan laut.
Aku menutup mata sejenak dan tersenyum tipis.
“Mulai hari ini… aku akan coba lebih bersyukur. Aku akan coba berjalan lebih pelan, dan kalau capek, Aku akan berhenti sejenak, bukan menyerah.”
Ketika kubuka mata, matahari sudah hampir benar-benar hilang di balik garis horizon. Tapi anehnya, untuk pertama kalinya sejak lama, pikiranku terasa jauh lebih terang.
Senja itu bukan sekadar pemandangan.
Ia adalah pengingat
Bahwa setelah gelap, selalu ada cahaya.
Dan setelah masalah, pasti ada kemudahan.
Aku bangkit dari tempat dudukku, menghirup dalam-dalam udara pantai yang mulai dingin. Dengan langkah lebih ringan, Aku berjalan pulang, membawa keyakinan baru. Hidup mungkin tidak selalu mudah, tapi selalu layak untuk dijalani pelan-pelan, dengan hati yang lebih lapang.
*** *** ***
Juara 3 : Akram Masyadji Arafat Setiawan
Kelas IL A
Judul Karya : Datang Dengan Sendiri, Hilang Tak Terganti
Hasil Karya :


Nemo namanya, mungkin kelihatannya seperti hewan peliharaan pada umumnya, tapi bagiku, hewan ini adalah teman dekatku. Dia datang ketika aku kesepian, dia ada ketika aku merasakan kesedihan, dan dia selalu ada ketika aku dalam keterpurukan. Nemo menemaniku dari kelas 6 SD, dan kala itu Nemo masih kecil hingga akhirnya dia tumbuh.
Nemo datang dengan sedirinya, entah apa yang mengantarnya. Nemo suka main bola kecil dan makan keju, Nemo adalah kucing betina yang tumbuh di rumah yang penuh dengan kehangatan, kegembiraan, dan kebersamaan. Nemo melahirkan 3 ekor anak kucing yang mirip dengan bulunya. Satu rumah bergembira dengan kehadiran anggota keluarga baru.
Hingga akhirnya Aku pun berangkat ke pondok pesantren, dan berpamitan dengan Nemo. Di pesantren aku selalu kangen dengannya, seringkali Aku menanyakan kabar Nemo, dia sehat dan semakin tumbuh.
Ujian tengah semester. Aku jatuh sakit, yaitu tumor jinak pada kaki, dan diharuskan operasi. Yang mana mengharuskanku pulang.
Sebelum operasi, Ibu memberitahu bahwa Nemo sudah tiada. Seketika hati ini seperti disayat dari berbagai arah.
Bagaimana bisa dalam kondisi rasa takut karena operasi, harus ada kesedihan yang lain.
Air mata yang ingin kukeluarkan ketika operasi, kini keluar begitu saja tanpa instruksi. Hingga operasi selesai dan kemudian pulang, Aku hanya diam dalam memori ku. Dalam rasa yang sakit yang bersamaan ini adalah rasa yang tak pernah kualami sebelumnya. Kemudian liburan pun tiba, anak-anak lain sangat bergembira, tetapi aku tidak. Waktu tak dapat kembali. Nemo hadir dalam hidupku serta mewarnai pula memori indahku. Terima kasih, Nemo.
Waktu terus berjalan. Aku perlahan mengikhlaskannya. Di dunia ini memang tidak ada yang abadi, kecuali kehendak Tuhan Yang Maha Tinggi.
Aku kangen Nemo, dan ini adalah foto terakhir nya.
*** *** ***
Editor :
- Aufa Fazry Dwy try
- Rafa Rizky Al Haffizh
Juri :
- Fathin Rahman Fahlevi (Juri Umum)
- Rafa Rizky Al Haffizh (Juri Fotografi)
- Aufa Fazry Dwy Try (Juri Narasi)
Tim Redaksi : Qism Shahafi