Sisi Lain Hikmah Puasa

Ketika kolonialisme menyebar secara ganas di seluruh dunia pada awal abad ke-20, ilmu antropologi–ilmu yang mempelajari tentang budaya, bentuk spesifik dari sosiologi dan folk psychology–berkembang sama pesatnya.

Ilmu antropologi dibutuhkan oleh para penjajah sebagai alat nonfisik yang sangat fleksibel dan ampuh dalam menangani pemberontakan pribumi. Dengannya mereka bisa memahami kehidupan pribumi, masuk kedalamnya, untuk kemudian menghancurkannya atau meracuninya. Ilmu antropologi di masa lalu adalah alat perang.

Mari kita intip sejarah salah satu hentakan perkembangan ilmu antropologi pada masa itu.

Bronislaw Malinowski dinobatkan sebagai salah satu antropolog terpenting di dunia karena karyanya, Argonauts of the Western Pacific dan pengembangan teori Participant Observation.

Cerita dibalik dua temuan itu terbilang cukup unik. Saat ia sedang dalam penelitian di Papua Nugini, tepatnya di suku Trobriand, perang dunia satu pecah. Sehingga ia tak bisa pulang ke poalndia, tempat kelahirannya.

Lalu ia memutuskan sebuah hal yang tak lazim bagi orang-orang pada saat itu. Tinggal bersama suku Trobriand.

Ia berbaur dengan penduduk, belajar bahasa mereka, memahami budaya mereka dari dalam. Memahami senang dan sedih mereka, memahami pola pikir mereka.

Hingga akhirnya ia pulang, membawa bahan penelitian untuk bukunya, dan pengembangan teori Participant Observation.

Participant Observation Theory adalah teori dimana untuk memahami sebuah budaya, kita diharuskan untuk “menyelam” pada budaya tersebut. Kita harus merasakan kebudayaan itu sendiri agar memahami maksud dan nilainya, tak hanya menjadi pengamat dari luar saja.

Namun, orang-orang eropa itu tak sadar bahwa teori tersebut sudah lama ada. Bahkan sudah mendarah daging. Siapa yang menemukannya? Islam. Ketika Allah subhanahu wa taala berfirman:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ كُتِبَ عَلَيۡكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” [QS. Al-Baqarah: 183]

Salah satu faidah dari ayat ini adalah bahwa Allah subhanahu wa taala ketika ingin melembutkan hati seorang insan agar mengasihi yang kurang mampu, Allah tidak mengatakan; “Kasihanilah orang yang kekurangan. Tidakkah engkau bersyukur telah diberi nikmat makanan dan minuman? pakaian dan rumah?”.

Allah subhanahu wa taala dengan hikmahnya yang agung memberikan pendekatan yang sangat efisien dan efektif. Membuat orang-orang berkecukupan merasakan lapar dan haus, dengan turunnya perintah ibadah puasa.

Maka salah satu hikmahnya dengan diperintahkannya ibadah puasa, Allah membuka jalan agar manusia dapat mensyukuri dua hal; Mensyukuri nikmat yang telah Allah beri, dan mensyukuri kesempatan untuk menerima nikmat tersebut.

Maka rasa syukur yang pertama mendorong kedekatan kita kepada sang Rabb, dan rasa syukur yang kedua mendorong rasa empati untuk lebih peka kepada orang lain.

Maka semoga dengan kita menunaikan ibadah puasa ini, kita tak hanya mendapat pahala dan ampunan yang agung, namun juga hikmah, kebijaksanaan, empati, serta jernih dan lembutmya hati.

sekian.

Penulis  : @zrydw_

Editor Dan Tim Redaksi : Qism Shahafi

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lihat postingan lainnnya

Scroll to Top