Surat dari ibu

“Bismillah … “

Fahmi mengucapkan kalimat itu sebelum membuka surat yang diberikan ayahnya ketika
mengantarnya ke pesantren.


Sudah dua minggu ia tinggal di sana. Awalnya Fahmi sangat bersemangat. Ia
membayangkan memiliki banyak teman dan pengalaman baru. Namun setelah beberapa
hari, semangat itu mulai hilang.


Jadwal pesantren terasa padat. Bangun sebelum subuh, salat berjamaah, mengaji, sekolah,
belajar, menghafal, dan kembali mengaji pada malam hari.


Suatu malam, Fahmi duduk di atas tempat tidurnya. “Aku ingin pulang,” pikirnya.
Saat itulah ia teringat surat dari ibunya, Fahmi membukanya.

“Untuk Fahmi, anak Ibu yang Ibu sayangi”.
Kalau suatu hari kamu merasa lelah di pesantren, ingatlah bahwa Ibu dan Ayah juga
merindukanmu. Tetapi kami percaya kamu sedang melakukan sesuatu yang sangat
berharga.
Kami tidak mengharapkan kamu menjadi orang yang sempurna. Kami hanya ingin kamu
menjadi anak yang mengenal agamanya, memiliki akhlak yang baik, dan mampu
membedakan mana yang benar dan mana yang salah.
Jangan takut dengan sulitnya belajar. Kalau belum bisa, belajar lagi. Kalau belum hafal,
ulangi lagi. Kalau jatuh semangatnya, bangun lagi.
Suatu hari nanti, mungkin kamu akan mengerti mengapa kami rela melepasmu pergi.
Belajarlah dengan ikhlas.
Ibu selalu mendoakanmu.”

Fahmi terdiam cukup lama, air matanya hampir jatuh.

Ia kemudian memandang Al-Qur’an yang berada di samping tempat tidurnya. “Kalau Ibu
dan Ayah saja percaya kepadaku, kenapa aku harus menyerah?”


Sejak malam itu, Fahmi mencoba menjalani kehidupan pesantren dengan cara berbeda. Ia
tidak lagi menghitung berapa hari lagi sampai liburan. Ia mulai menghargai setiap
kegiatan.

Ketika mengaji, ia berusaha memahami maknanya. Ketika menghafal, ia tidak marah jika
lupa. Ketika belajar fikih, ia bertanya kepada ustaz jika ada yang tidak dipahami. Dan
ketika merasa lelah, ia mengingat surat ibunya.


Beberapa bulan kemudian, Fahmi mulai berubah. Ia menjadi lebih disiplin. Ia juga
semakin dekat dengan teman-temannya. Mereka sering belajar bersama setelah salat Isya.
Suatu hari, Fahmi berhasil menyelesaikan hafalan yang selama ini sulit baginya. Ia
tersenyum bahagia.


Lalu temannya menepuk bahunya. “Wah, selesai juga akhirnya hapalanmu Fahmi!”
Fahmi pun tertawa. “Iya. Ternyata kalau terus mencoba, yang sulit bisa menjadi mudah.”
Malam itu, Fahmi kembali membuka surat ibunya. Namun kali ini ia tidak membacanya
karena ingin pulang. Ia membacanya karena ingin mengingat alasan mengapa ia tetap
bertahan, lalu mengambil kertas dan menulis surat balasan.
“Bu, sekarang Fahmi sudah mulai betah … “.

Fahmi masih sering capek, tapi Fahmi tidak ingin menyerah. Ia ingin belajar lebih
banyak. Fahmi ingin suatu hari nanti ilmu yang ia dapatkan di pesantren bisa membuat
Ibu dan Ayah nya bangga.


“Terima kasih sudah mengajarkan Fahmi bahwa belajar bukan hanya tentang
mendapatkan nilai, tetapi juga tentang menjadi manusia yang lebih baik.” Lalu Fahmi
melipat surat itu.

Sebelum tidur, ia tersenyum. Kini ia mengerti bahwa pesantren bukan sekadar tempat
untuk belajar. Pesantren adalah tempat untuk melatih kesabaran, memperbaiki akhlak,
memperdalam agama, dan belajar menjadi pribadi yang lebih kuat. Dan terkadang, rasa
betah tidak datang karena tempatnya selalu mudah, tetapi karena hati kita mulai
menemukan tujuan di dalamnya.


Fahmi pun memejamkan mata dengan tenang, besok pagi ia akan kembali bangun
sebelum subuh.

Bukan lagi karena terpaksa.
Tetapi karena ia tahu, setiap langkahnya menuju masjid adalah bagian dari perjalanan
panjangnya mencari ilmu.

Penulis :Ren otose

Pengembang: Nashwan Azis Dzaki

Tim Redaksi :Qism shahafi

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lihat postingan lainnnya

Scroll to Top