Hari pertama di pesantren terasa begitu berat bagi Rafi.
Sejak pagi, ia harus berpisah dengan orang tuanya. Ketika mobil yang mengantar
keluarganya perlahan meninggalkan gerbang pesantren, Rafi hanya bisa berdiri sambil
memandangi kendaraan itu hingga menghilang di tikungan.
“Rasanya ingin pulang,” gumamnya.
Di rumah, Rafi terbiasa tidur sampai pagi, bermain bersama teman-temannya, dan
menggunakan waktu luang untuk menonton video. Namun di pesantren, semuanya
berubah. Ia harus bangun sebelum subuh, melaksanakan salat berjamaah, mengaji,
mengikuti sekolah, kemudian kembali belajar pada malam hari.
Hari-hari pertama terasa sangat melelahkan.
Suatu malam, setelah pengajian selesai, Rafi duduk sendirian di teras masjid. Wajahnya
terlihat murung.
Seorang ustaz bernama Ustaz Hamdan menghampirinya. “Kenapa kamu murung, Rafi?”
“Saya capek, Ustadz. Saya juga kangen rumah. Rasanya mau pulang.”
Ustaz Hamdan tersenyum. “Wajar kalau kamu rindu rumah. Tapi coba kamu pikirkan,
mengapa orang tuamu mengirim kamu ke sini?”
Rafi terdiam. “Karena mereka ingin saya menjadi anak yang baik,” jawabnya pelan.
“Betul. Pesantren bukan tempat untuk membuatmu jauh dari keluarga. Pesantren adalah
tempat untuk mempersiapkanmu agar suatu hari kamu bisa membahagiakan
keluargamu.”
Rafi menundukkan kepala.
Ustaz Hamdan kemudian mengambil sebuah buku dari rak masjid. “Ilmu agama itu
seperti cahaya. Mungkin sekarang kamu belum merasakan manfaatnya. Tetapi suatu hari,
ketika kamu menghadapi masalah dalam hidup, ilmu inilah yang akan membantumu
menentukan jalan.”
Kata-kata itu terus teringat oleh Rafi.
Keesokan harinya, ia mencoba mengubah kebiasaannya. Ia mulai menikmati belajar Al-
Qur’an. Ketika tidak memahami pelajaran, ia bertanya kepada ustaz. Ia juga mulai akrab
dengan teman-teman sekamarnya.
Ternyata pesantren tidak seburuk yang ia bayangkan. Ada teman yang
membangunkannya ketika ia kesiangan. Ada yang membantunya menghafal. Ada pula
yang mengajaknya bercanda setelah belajar.
Hari demi hari berlalu. Tanpa terasa, tiga tahun sudah Rafi tinggal di pesantren.
Pada suatu sore, ia berdiri di tempat yang sama dengan ketika pertama kali datang.
Dahulu ia berdiri dengan air mata dan keinginan untuk pulang. Kini ia berdiri dengan
senyum.
Lalu Seorang adik kelas menghampirinya.
“Kak Rafi, betah di pesantren?”
Rafi tertawa kecil. “Dulu aku juga pernah pengen pulang tiap hari.”
“Terus kenapa kaka sekarang betah?”
Rafi memandang masjid di hadapannya. “Karena aku sadar, ternyata aku tidak sedang
kehilangan masa muda. Aku sedang mengisinya dengan ilmu.”
Ia kemudian tersenyum. “Kalau kamu merasa lelah, jangan langsung menyerah.
Istirahatlah, lalu lanjutkan lagi. Menuntut ilmu memang tidak selalu mudah, tetapi ilmu
yang kita perjuangkan hari ini bisa menjadi cahaya untuk kehidupan kita di masa depan.”
Sejak saat itu, Rafi tidak lagi memandang pesantren sebagai tempat yang membatasi
kebebasannya. Ia memandangnya sebagai rumah kedua. Tempat ia belajar agama,
menemukan sahabat, mengenal dirinya sendiri, dan mempersiapkan masa depan.
Dan ia pun memahami satu hal:
Tidak semua perjuangan terasa menyenangkan pada awalnya. Namun jika dijalani
dengan ikhlas, perjuangan itu bisa menjadi kenangan paling indah dalam hidup.
Penulis : Ren otose
Pengembang : Nashwan azis Dzaki
Tim Redaksi : Qism Shahafi