Nama : Adnan Kasogi
Kelas : 3C
Judul : Suasana Saat Sore Hari
Isi :

Matahari terbenam di ufuk barat
Mewarnai langit dengan sorot hangat
Perkebunan yang tenang, pohon rindang berdiri
Suasana damai, hati terasa lepas
Desiran angin, suara alam yang syahdu
Perkebunan yang luas, pasir yang lembut
Awan putih, langit biru yang cerah
Pemandangan yang indah, tak terlupakan
Senja yang tenang, suasana yang damai
Perkebunan yang sepi, hanya suara angin
Aku berdiri, menikmati keindahan
Pemandangan yang tak akan pernah kulupakan
***
Nama : Niko Rizqi Kurniawan
Kelas : 2B
Judul : Sejarah
Isi :

Di balik tembok batu tua yang mulai ditelan lumut, Terbentang padang rumput hijau tempat kambing-kambing merumput dengan tenang. Dari kejauhan, tembok itu tampak seperti sisa benteng kuno, diam, kokoh, dan penuh rahasia. Orang-orang desa menyebut tempat itu lawang sepi, karena tidak banyak orang yang berani berlama-lama disana saat senja.
Konon, ratusan tahun lalu, padang itu adalah halaman sebuah kerajaan kecil. Tembok-tembok batu itu manjadi saksi bisu sumpah para penjaga yang berjanji melindungi tanah itu hingga akhir hayat. Ketika kerajan itu runtuh, para penjaga kerajaan itu pun menghilang, mayat penjaga kerajaan itu pun tidak ditemukan, konon setiap malam warga yang tinggal sekitar itu sering mendengar langkah kaki kuda tak kasatmata di sekitar benteng. Setiap malam warga merasa resah karena sering mendengar yang aneh disekitar benteng, konon katanya jiwa-jiwa para penjaga masih ada di benteng tersebut untuk menjaga keseimbangan alam.
***
Nama : Zikri Khoirul Anwar
Kelas : 2C
Judul : Bumi itu Luas
Isi :

Banyak yang mengira satu kota itu kecil, padahal satu kota pun bisa menampung Bendungan terbesar di Indonesia, Manusia memang tak pernah merasa puas dalam hal kekuasaan dan kekayaan
Aku turun dari taxi, menutup pintu dengan pelan, mobil mulai meninggalkan aku sendirian di sini, di tujuan ku, ku menuruni tangga dengan pepohonan yang rindang di pinggir nya, hingga ku melihat danau yang luas sekali bagaikan selat madura, angin mengibarkan rambut ku. Inilah Waduk Jatiluhur, terbesar nomor 1 di Indonesia memenuhi 1 kabupaten. Kini aku menyadari bahwa satu Kabupaten itu tak sekecil yang aku bayangkan, betapa luas nya bumi ini, saking luas nya ku tak sanggup melihat tepian di ujung sana, ku hanya melihat perbukitan yang diselimuti oleh kabut, ku duduk di atas batu besar, ku merenung, “Pantas saja Allah menyuruh hamba-nya untuk pergi dari kota yang kafir ke kota yang muslim” gumamku, aku berdiri menarik napas dalam-dalam, mengembuskannya.
***
Nama : Prio Azmi Fakhir
Kelas : 2A
Tema : Mengingat Kematian
Isi :

Aku biasa pulang ke kampung setiap libur sekolah. Namun tidak kali ini. Orangtuaku sIbuk. Kami hanya di rumah.
Ketika itu, mbahku sedang berlIbur di pantai bersama keluarga besar. Aku yang mendapat informasi itu sedih, ingin ikut. Namun apa daya, “Lain kali ya? Papa masih sIbuk.” Begitu katanya.
Aku akhirnya menyIbukkan diri denngan kegiatan lain untuk mengisi hati yang kosong dan kecewa ini. Ketika itulah kabar buruk itu datang.
Mbahku meninggal. Shubuh tadi. Padahal beberapa hari yang lalu masih sehat bugar. Masih pergi ke pantai. Tak ada yang menyangka.
Kematian. Kata itu memekakkan kepalaku berhari-hari. ajal tak menunngu orang. Ajal tak menunggu sakit. Ajal tak menunggu taubat, ibadah.
Ajal. Satu kata penghilang keindahan. Perusak kebahagiaan. Penghancur tamak. Mengingatnya akan membimbing kita menuju ibadah.
***
Nama : Daud Abbas Al Baihaqi
Kelas : 3A
Judul : Pantai Widuri Pemalang
Isi :

Ada satu hal baik diantara rasa tak nyamanku ketika pulang kampung.
Pantai
Desir angin yang menenangkan , matahari terbenam, hamparan pasir putih, kelapa, Bersama keluarga.
Ini Adalah fotoku saat aku berada di sana.
***
Nama : Alkamil Ikhwan G
Kelas : 2A
Tema : Keseruan LIburan Di Trans Snow World
Isi :

Liburan itu terasa seperti memasuki dunia lain. Hamparan salju buatan membentang luas, menghadirkan suasana musim dingin yang selama ini hanya kami lihat dari cerita dan layar kaca. Deretan rumah kayu dengan lampu-lampu hangat berdiri rapi, seolah sebuah desa kecil di negeri bersalju. Tawa anak-anak dan jejak kaki di atas salju menjadi bukti bahwa tempat ini bukan sekadar arena wisata, melainkan ruang untuk menciptakan kenangan.
Di akhir minggu ke 2 liburan ini, Tepatnya di tengah dinginnya udara, Aku berdiri di samping manusia salju yang mereka anggap sebagai teman baru liburan ini. Dengan sarung tangan tebal dan pakaian hangat, memeluk momen sederhana, berpose, tersenyum, dan menikmati kebersamaan liburan, Manusia salju itu mungkin tidak hidup, tetapi kehadirannya menjadi saksi kebahagiaan yang tulus—tentang liburan yang tidak diukur dari jarak perjalanan, melainkan dari rasa senang yang dibagikan kepada kami Terima kasih Trans Snow World.
***
Editor :
- Aufa Fazry Dwy tri
- Rafa Rizky Al Haffizh
Juri :
- Fathin Rahman Fahlevi (Juri Umum)
- Rafa Rizky Al Haffizh (Juri Fotografi)
- Aufa Fazry Dwy Tri (Juri Narasi)
Tim Redaksi : Qism Shahafi