Karya Peserta Lomba Foto Bercerita #2

Nama             : Aufa Fazry Dwi Try

Kelas               : 5 A

Judul               : Gantung Diri

Isi                    :

Kuambil kunci motor dari gantungan, mengeluarkan sepeda motor yang teronggok di teras. Bukan Aku yang menarik gasnya. Itu amarahku.

Aku memaki adikku habis-habisan. Sebelum lebih keruh, kutinggalkan rumah. Biar jalanan yang meledak-ledak. Rumahku tak usah.

Angin yang menampar-nampar pipiku tak kuasa menyadarkanku. Speedometer menunjuk angka seratus, berusaha mengingkari apa yang kulakukan.

Diamlah, lain kali saja Aku warasnya.

Aku menghentikan motorku di pinggir irigasi. Aneh, tapi Aku tak punya tempat lain. Aku pun tak bisa kabur terlalu lama, karena motor ini akan dipakai Mama mengaji.

Aku menarik napas. Kali ini kubiarkan angin menyadarkanku, menyabarkanku, mengelus pundakku. Kulihat awan yang kelabu. Entah, mungkin turut prihatin atas semua yang menimpaku.

Aku malas memikirkan kembali apa yang telah terjadi. Aku sibukkan diri dengan yang lain. Kuperhatikan awan yang bak atap, tak bercelah. Sepertinya malan akan hujan. Kuperhatikan rumput yang bergoyang, daun yang melambai. Kuamati jalan di bawah tapakku yang berbatu, tak mulus. Entah kemana pemerintah melihat. Ini jalan yang cukup ramai dan inti ketika jam berangkat dan pulang kerja. Namun tetap saja diabaikan. Apa harus ada yang celaka terlebih dahulu baru diperhatikan? Bagai warga yang baru beronda ketat setelah tetangganya kemalingan. Maling itu tentu tak akan beraksi lagi. Maling juga punya akal, aneh kalau disikapi macam monyet.

Belum habis kupikirkan tentang jalan, Pikiranku berpindah ke jembatan apung di depan. Lihat! Hingga warga harus membuat jembatan sendiri untuk memenuhi kebutuhan mereka. Apa pemerintah benar-benar tak mau dengar?

Jembatan itu tidak baru, sudah ada sejak aku pindah rumah dari jakarta. Bahkan dengan karawang yang masih belum seramai sekarang, mereka sudah membuat jembatan itu. Mereka tak menuntut kemudahan, mereka menuntut kebutuhan. Tahun ini, ada dua jembatan baru yang dipasang di jalur ini, imbas jembatan lama yang terlalu kecil. Pun keduanya buatan warga.

Apa harus begitu? Apa harus Saat orang-orang yang harusnya bertanggung jawab tak bisa diharap, harapan itu harus dipenuhi oleh tangan sendiri?

DAR!

 Guntur bergemuruh. Bersamaan dengan kepalaku.

Aku mengangguk. Benar.

Untuk apa Aku bergantung pada orang lain? Untuk apa Aku minta dimengerti? Untuk apa kugantungkan harapanku pada orang lain?

Itu harapanku. Tanganku sendirilah yang harus menggapainya.

Aku tak sepatutnya meminta pengertian adikku. Ia tak paham isi kepalaku. Hanya Aku sendiri yang tahu Hanya Aku sendiri yang lelah. Mengapa Aku memaksa orang lain untuk memahamiku? Itu bukan kewajiban mereka.

Aku menarik napas, mengisi dadaku dengan segala ketegaran yang dibawa angin.

Jika tak ada yang peduli tentang diriku, itu karena mereka sIbuk memedulikan diri sendiri. Dan itulah yang seharusnya kulakukan. Mengurus diri sendiri.

Kunyalakan mesin. Waktunya pulang.

Kali ini, semoga hati ini tak rapuh lagi.

***

Nama              : Habiebie Dwi Putra Yuri

Kelas               : 3C

Judul               : Hobi

Isi                    :

Dinding itu dihiasi gambar-gambar,  sketsa-sketsa. Buatan tangan. Dengan berbagai gaya.

Itu punyaku. Dan itu masa lalu.

Aku sIbuk berkutat dengan gawai—walaupun renggang juga begitu. Hanya tidur-tiduran di kasur. Buku sketsa dan komik teronggok di meja. Sebagian baru dibeli beberapa hari yang lalu.

Hari itu Ibu menyuruhku membersihkan kamar. Namun baru setengah jam, Aku sudah terhenti.

Itu sketchbook pertamaku.

Aku membukanya perlahan. Lembar demi lembar. Dengan pertanyaan yang terselip di setiap halamannya.

Apa kau tak akan menggambar lagi?

Apa bertahun-tahun menggambar hanya untuk buang-buang waktu?

Ku tutup buku itu. Pikiranku malah lebih liar. Aku membayangkan orang-orang yang kekurangan, baik materi maupun fisik, tetap bisa dan konsisten melakukan hobinya. Sedangkan aku, yang tak kurang apa-apa, tak melakukan apa-apa.

Kuselesaikan bersih-bersih dengan cepat. Bukan untuk kembali bersantai. Namun untuk melanjutkan kisah lama.

Aku bergetar. Menggores penaku di atas kertas. Ini adalah hobiku. Menggambar.

***

Nama              : Taufik Wibowo

Kelas               : IL A

Judul               : The First Time Of Summit

Isi                    :

Kamis, 26 Juni 2025.

Ragu. Kata yang tepat untuk mengutarakan isi hati kami waktu itu. Tanpa pengalaman. Tak punya alat. Hanya modal nekat dan tekad. Kami memutuskan untuk mendaki gunung Gede.

Setelah meyakinkan diri dan menyewa peralatan, perjalanan itu dimulai.

Dua setengah jam jarak dari Jakarta ke Basecamp gunung Gede. Kami mengecek ulang perbekalan sebelum akhirnya mendaki. Takut-takut jika ada yang tertinggal.

Kami memutuskan untuk menginap di basecamp. Mengisi tenaga. Sebelum akhirnya mulai mendaki pukul tiga pagi.

Alarm tak sulit membangunkan kami. Kami terlalu bersemangat untuk sekadar mematikannya, bergeliat, kemudian kembali tidur. Ada misi besar hari ini. Kami memulai pendakian dengan doa. Harapan selamat, harapan semua berjalan lancar, harapan dapat pulang utuh, tak kurang satupun. Langkah pelan kami bukan karena takut. Bukan karena gentar. Kami menyesuaikan diri dengan kemiringan dan medan. Tak sampai setengah jam, kami segera terbiasa. Memulai langkah yang lebih kokoh, lebih besar, lebih gagah. “Maju sini, tantangan!”

Pukul lima. Kami sampai di pos satu. Logok Leunca. Kami memutuskan berhenti sejenak. Menikmati sunrise. Setelah merasa cukup, kami melanjutkan perjalanan.

Jarak ke pos dua relatif pendek. Buntut Lutung. Istirahat sejenak. Makan makanan ringan, untuk akhirnya kembali mendaki.

Pos 3. Lawang Saketeng. Jaraknya cukup jauh dari pos kami berada. Kami baru tiba di sana pukul sepuluh. Lelah. Kata yang pas. Jarak yang kami tempuh sebelum ini pendek-pendek. Kami bisa cepat tarik napas. Trek panjang ini beda. Tiga jam baru sampai ke pos ini. Kami mengusap peluh. Beristirahat agak lama. Itu karena dua hal. Pertama, seperti yang tadi diceritakan, lelah. Kedua, karena trek selanjutnya yang dikenal ekstrem. Kami perlu kekuatan fisik dan mental yang prima untuk itu.

Curam. Terjal. Bebatuan dan akar. Kombinasi sempurna untuk membuat kami beristirahat di setiap pos bayangan. Peluh menetes. Tenaga terkuras. Kami saling menyemangati. “Tetap kuat!”. “Jangan menyerah!”. Orang asing ikut menyemangati kami. Cukup untuk memotivasi kami.

Kami sampai di Simpang Maleber. Pos empat. Kami hanya istirahat sejenak, karena dekat dengan lahan camp. Pemberhentian terakhir kami untuk melakukan summit attack. Jalan setelah pos empat landai. Tak banyak menguras tenaga.

Pukul satu tiga puluh siang. Tiga terharu. Dua tak percaya. Satu bahkan menepuk-mepuk pipi. Kita sampai. Alun-alun Surya Kencana. Petak lapang dengan bunga-bunga Edelweis. Kami berbenah. Membuat tenda, merapikan barang. Ada tiga tenda, dua untuk tidur dan satu untuk logistik.

Pukul setengah enam sore. Kami—yang entah mengapa sepakat—terbangun bersama. Cuaca dingin. Butuh kehangatan. Kami memasak nasi sambil menikmati sunset. Tentu tak lupa memotret.

Namun itu bukan pemandangan terbaik yang kami foto di sini. Masih ada lagi.

Kami—lagi-lagi sepakat—tidak berada di luar tenda pada malam hari. “Matahari masih wujud saja jari sudah mati rasa, bagaimana kalau malam?” pikir kami.

Namun hati kecil ini tak sepakat. Aku mengambil jaket, memberanikan diri keluar. Sebentar saja. Aku ingin melihat bintang. Kapan lagi kita bisa lihat langit dari atas gunung, kan?

Aku mendongak ke langit, dengan tangan di saku jaket. Berkedip. Berkedip lagi. Kemudian berkedip lagi. Tak percaya dengan apa yang kulihat. Setelah benar-benar yakin, Aku meneriaki teman-teman di tenda. “Milky Way!”

Itu potret terindah yang kami ambil di sini.

Kami tak bisa lama-lama di luar. Dingin. Pun harus beristirahat untuk summit attack nanti pagi. Kami memilih untuk membahasnya di dalam. Itu lebih baik. Kami tak ingin memakai emergency blanket kami. Itu untuk nanti-nanti saja

Pukul dua dini hari. kami sudah sIbuk. Persiapan summit attack. Memasak, menyiapkan pakaian, barang-barang penting. Kami tak ingin harus balik lagi ke tenda. Malas. Sebelum memulai, kami berdoa. Doa yang sama. Doa berharap selamat, Doa berharap semua berjalan lancar, Doa berharap dapat pulang utuh, tak kurang satupun.

Kami benar-benar bersemangat. Katakanlah terburu-buru.

Kami sampai pukul setengah empat. Bersamaan dengan penduduk yang akan membuka warungnya. Kami beristirahat di sana. Menunggu matahari terbit. Lama memang. Kami mengobrol. Mengolok-olok “semangat” kami yang membara itu.

Itu pemandangan yang menakjubkan. Bahkan walaupun kami sering melihatna di rumah. Fajar merobek gelapnya malam. Membasuh pepohonan, anak-anak bukit. Hangat menyergap. Nyaman, indah, jadi satu.

Tak  menyangka akhirnya kami ada di sini. Terbayarkan. Kata yang pantas. Kami memotret. Entah mengapa tak seperti biasanya. Lebih takzim kali ini. Pun ketika memotret lautan awan.

Perjalanan panjang dengan segala keteguhan, kesabaran, kebersamaan, dan keberanian yang ditaburi, dIbungkus, ditutup, dan diceritakan dengan penuh keindahan ini sangat berarti. Aku yakin hati ini akan selalu mengingatkanku atas petualangan berharga ini.

***

Nama             : Faeyza Yanuartama

Kelas               : 2B

Tema               : Suasana Yang Menenangkan

Isi                    :

Selama aku berada di tempat ini aku merasa tenang dengan keadaan yang tidak terlalu ramai. 

Jika kalian merasa stres, capek, dan sebagainya, maka kalian harus mencari tempat dimana kalian merasa tenang dan nyaman karena Allah menciptakan dunia ini sangat luas. Jadi pergilah kemana kalian merasa tenang.

***

Nama             : Raihan Islami Rafi

Kelas               : 5C

Tema               : Sore Setajam Silet

Isi                    :

Di bawah langit senja yang perlahan meredup, cinta itu pernah tumbuh tenang, sederhana, seperti sawah yang menunggu musim.

Kabel-kabel hitam membentang di atas kepala, seperti jarak dan waktu yang sering kali memisahkan dua hati. Namun di bawahnya, air sawah memantulkan cahaya matahari terakhir dengan setia, seolah berkata bahwa apa pun yang terhalang di atas, perasaan yang jujur akan selalu menemukan caranya untuk bersinar.

Mereka pernah berdiri di tempat ini. Tak banyak kata, hanya diam dan pandangan yang saling memahami. Tak ada sentuhan yang berlebihan, hanya doa yang saling diaminkan, dan pandang yang dijaga agar tetap bermakna. Kami berbincang tentang masa depan dengan sederhana—tentang niat yang lurus, tentang sabar yang dipeluk bersama.

Awan gelap datang perlahan, membawa ragu dan takut kehilangan. Tapi matahari tetap muncul di sela-selanya. Hangat, yakin, dan penuh harap—seperti cinta mereka yang tak pernah benar-benar padam. Saat matahari tenggelam, kami pun menunduk, mengucap syukur atas pertemuan yang bersih dan perasaan yang terjaga. Dalam cahaya terakhir itu, cinta tak sekadar rasa, melainkan ikhtiar yang sopan, penuh harap, dan bernilai ibadah.

Pantulan cahaya di air itu adalah kenangan: tentang tawa kecil, janji yang diucap pelan, dan keyakinan bahwa cinta tak harus selalu megah. Cukup seperti senja hari ini—hadir, singkat, namun membekas lama. Dan ketika matahari akhirnya tenggelam, sawah tetap menyimpan cahayanya. Seperti hati yang pernah mencinta, ia tak pernah benar-benar gelap.

***

Nama             : Hamzah

Kelas               : 5A

Tema               : Pena Dan Mata

Isi                    :

Sialnya, kursi ini malah membuatku “terbang” lebih tinggi.

Aku menenggak kopi kalengan denga perlahan. Sepertinya sudah tak ada lagi yang terlalu pahit untukku.

Aku mengenalnya sebagai tetangga, teman baik. Satu sekolah, satu kelas, satu kelompok tugas, berlomba menjadi juara kelas. Aku tak tahu pasti apa pria dan wanita bisa dianggap rival, namun itulah yang terjadi.

Hingga orang tuanya dimutasi. Setelah itu kami putus kontak.

Kami bertemu kembali setelah sekian lama di acara reuni. Ia masih mengenalku. Namun aku sempat tak mengerti diriku sendiri saat ia mengenalkan seseorang. Tunangannya.

Bodohnya, sejak ia hadir dalam hidupku, hingga pergi sekalipun, bibit itu tetap tumbuh. Subur.

Esok ia akan menikah.

Di sinilah aku. Masih berusaha mencari udara segar dengan duduk di kursi depan minimarket. Padahal yang membuat sesak itu hati. Bukan atmosfer rumah.

“Permisi, apa aku boleh duduk disini?”

Kalau situasinya lebih baik, aku akan menertawakan orang itu. Ia memakai turtleneck putih alih-alih kemeja sebagai dalaman vest-nya.

“Maaf kalau menggangu, tapi kursi lain sudah terisi.” Ia menjeda ketika aku menoleh, memeriksa kursi. “Aku hanya akan disini sebentar. Hanya untuk menghabiskan kopi.” Ia menunjukkan kaleng kopinya. Sama dengan punyaku.

Aku mengangguk. Mungkin dengan keberadaan orang asing ini akan sedikit menjinakkan akalku.

“Boleh aku mengatakan sesuatu?” Ia akhirnya bicara setelah menenggak kaleng kopinya tiga kali. Sepertinya isinya sudah hampir habis. Aku mengangguk. Ya.

Ia menghela napas. Lenggang tiga detik. Baru kemudian suaranya terdengar. “langit akan mendung, lantas cerah kembali. Di luar rumah akan badai, lantas bersemi kembali. Seseorang akan hidup bahagia, lantas mati. Akan hidup sengsara, lantas mati. Seseorang akan datang, lantas pergi. Seseorang akan mencintai, lantas membenci. Seseorang akan hancur, lantas kembali berdiri.” Matanya kosong. Menerawang langit malam itu.

“Lantas… mengapa kita harus terikat pada segala yang telah berlalu?”

Aku tahu ia bertanya pada dirinya sendiri. Namun entah mengapa hatiku teras peri.

Lenggang itu teras sangat lama bagiku. Akhirnya orang asing itu bangkit. Ia pamit. Bilang ada urusan. Juga minta maaf telah menggangguku.

Aku mengangguk untuk yang pertama, namun menggeleng untuk yang kedua. Ia sangat membantu.

Esok hari.

Aku tak menyangka akan melangkahkan kaki ke sini. Aku menghadiri pesta pernikahannya. Dengan turtleneck dan vest. Bentuk terima kasihku pada orang itu.

Aku menemuinya. Dengan senyum penuh damai dan penerimaan. Ia yang menangis. Sepertinya orang tuaku bercerita terlalu banyak.

Aku pulang agak malam dari tempat pesta. Namun aku belum mau tidur. Kuputuskan mampir sejenak ke minimarket sebelum pulang ke rumah. Membeli kopi. Aku mencari kursi di luar.

Aku melihat seseorang duduk di kursiku kemarin. Sebelahnya kosong. Persis seperti saat itu. Orang itu juga sepertinya sedang galau.

“Permisi,” Ia melihatku agak aneh, seakan ingin tertawa. “Apa aku boleh duduk di sini?”

Malam ini, aku orang bijaknya.

*** *** ***

Plot twist! Orang asing yang ditemui MC adalah dirinya sendiri. Ia belum kemana-mana. Masih di minimarket. Imajinasinya menciptakan looping. Itulah “terbang” yang dimaksud.

***

Editor :

  • Aufa Fazry Dwi try
  • Rafa Rizky Al Haffizh

Juri :

  • Fathin Rahman Fahlevi (Juri Umum)
  • Rafa Rizky Al Haffizh (Juri Fotografi)
  • Aufa Fazry Dwi Try (Juri Narasi)

Tim Redaksi : Qism Shahafi

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lihat postingan lainnnya

Scroll to Top