السلام عليكم و رحمة الله و بركة
الحمد لله عل إحسانه والشكر له على توفيقه ومتنانه أشهد أن لا إله إلا الله تعظيما لشئنيه و أشهد أن محمد عبده و رسوله اللهم صل وسلم على محمد وعلى آله وأصحابه و من تبعهم باحسان إلى يوم الدين. أم بعد
Para santri yang semoga dirahmati oleh Allah عزوجل pertama-tama mari lah kita tingkat kan ketakwan kita kepada Allah تعال dengan menjalankan perintah-perintahnya sesuai dengan kemampuan dan menjauhi larangan-larangan nya, hendak lah kita senatiasa mejalan bertaakwa kepada Allah dan takut pada suatu hari Dimana seorang bapak tidak akan mampu membantu anak nya sama sekali, begitu juga sebalik, semua bertanggung jawab dengan amalannya masing-masing. Itulah kehidupan akhirat, kehidupan hakiki yang akan kita jumpai
Para santri yang semoga dirahmati oleh Allah عزوجل telah lewat suatu massa, pada waktu itu manusia belum berwujud sesuatu yang disebut, sebagaimana Allah berfirman
هَلْ اَتٰى عَلَى الْاِنْسَانِ حِيْنٌ مِّنَ الدَّهْرِ لَمْ يَكُنْ شَيْـًٔا مَّذْكُوْرًا
“Bukankah telah datang kepada manusia suatu waktu dari masa yang ia belum merupakan sesuatu yang dapat disebut?”
Sehingga Allah berkehendak untuk menciptakan kita, padahal sebelumnya kita tidak pernah ada. Allah juga memberikan limpahan karunianya, menjauhkan dari mara bahaya, memberikan petunjukanya.
Allah subhanahu wa ta ala terlah menerangkan kepada kita segala sesuatu yang bermanfaat dan yang membahayakan. Allah menjelaskan kepada kita bahwa manusia memiliki kehidupan, yaitu kehidupan sementara yang akan segera berlalu, dan kehidupan yang hakiki
Kehidupan sementara yang akan segera berlalu, ialah kehdupan dunia, suatu kehidupan yang tidak terlepas dari kekurangan nya, kecuali apa-apa yang digunakan untuk mendekatkan diri kepada Allah عزوجل . Kehidupan dunia ini pada hakikatnya hanyalah sebuah penderitaan, sedangkan gemerlap dunia yang ditampakan sebenarnya hanya kekeruhan. Demikiaan pula tatkala dunia berhias dengan berbagai perhiasannya dan nampak begitu indah dan mempesona, maka manusia pun menyangka akan mendapatkannya, pada saat itu datang lah ketetapan Allah melanda mereka di wakru siang dan malam kemudian tiba-tiba semuanya musnah, seolah tidak pernah ada sesuatu sebelumnya.
Ini lah dunia, harapan yang ditawarkan hanyalah Kesia-siaan dan kebinasaa, keindahan hanyalah penderitaan dan kesempitan. Allah تعال berfirman
اِعْلَمُوْٓا اَنَّمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَّلَهْوٌ وَّزِيْنَةٌ وَّتَفَاخُرٌۢ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِى الْاَمْوَالِ وَالْاَوْلَادِۗ كَمَثَلِ غَيْثٍ اَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهٗ ثُمَّ يَهِيْجُ فَتَرٰىهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُوْنُ حُطَامًاۗ وَفِى الْاٰخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيْدٌۙ وَّمَغْفِرَةٌ مِّنَ اللّٰهِ وَرِضْوَانٌۗ وَمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَآ اِلَّا مَتَاعُ الْغُرُوْرِ
“Ketahuilah bahwa kehidupan dunia itu hanyalah permainan, kelengahan, perhiasan, dan saling bermegah-megahan di antara kamu serta berlomba-lomba dalam banyaknya harta dan anak keturunan. (Perumpamaannya adalah) seperti hujan yang tanamannya mengagumkan para petani, lalu mengering dan kamu lihat menguning, kemudian hancur. Di akhirat ada azab yang keras serta ampunan dari Allah dan keridaan-Nya. Kehidupan dunia (bagi orang-orang yang lengah) hanyalah kesenangan yang memperdaya.”
Para santri yang semoga dirahmati oleh Allah,
Sedangkan akhirat, itu lah kehidupan yang sebenarnya, sebuah kehidupan yang menyimpan semua pilar kehidupan, baik berupa kebahagiaan dan keselamata. Ini lah hakikat akhirat, apa bila seseorang dapat menyaksiakan hakikatnya tentu ia akan berkata
يَقُوْلُ يٰلَيْتَنِيْ قَدَّمْتُ لِحَيَاتِيْۚ
”Dia berkata, “Oh, seandainya dahulu aku mengerjakan (kebajikan) untuk hidupku ini!”
Ini lah kehidupan akhirat, kehidupan hakik, tempat manusia akan hidup selamanya, dan tak akan pernah mati, Allah تعال berfirman
فَمَنۡ ثَقُلَتۡ مَوَازِيۡنُهٗ فَاُولٰٓٮِٕكَ هُمُ الۡمُفۡلِحُوۡنَ ١٠٢ وَمَنۡ خَفَّتۡ مَوَازِيۡنُهٗ فَاُولٰٓٮِٕكَ الَّذِيۡنَ خَسِرُوۡۤا اَنۡفُسَهُمۡ فِىۡ جَهَـنَّمَ خٰلِدُوۡنَ ۚ ١٠٣ تَلۡفَحُ وُجُوۡهَهُمُ النَّارُ وَهُمۡ فِيۡهَا كٰلِحُوۡنَ ١٠٤
“Barangsiapa berat timbangan (kebaikan)-nya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung”. Ayat 103: “Dan barangsiapa ringan timbangan (kebaikan)nya, maka mereka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, mereka kekal di dalam neraka Jahanam”. Ayat 104: “Wajah mereka dibakar api neraka, dan mereka di neraka dalam keadaan muram dengan bibir yang cacat”.
أقول قول هذ و إمكان فيه خطأ فاعف عني إمكان فيه مواب وحق فمن الله سبحنا و تعال و استغفر الله من هذ ، شكرا على استماعكم ثم السلام عليكم و رحمة الله و بركة
Oleh
Nama : Yazid
Asrama: Abdurahman Bin Auf 3