Pemberian

By : Hafidz Fahrizal Al Anshori

Aku membuka pintu perlahan, menyalami satu-satunya orang yang ada di rumah.

“Aku pulang.”

Orang itu adalah Ayahku. Kami hanya tinggal berdua. Itu sejak Ibu meninggalkan kami karena tak sanggup hidup sederhana. Aku tak tahu mengapa Ayah membiarkan Ibu pergi.

Di pagi hari, Ayah menjual koran dari rumah ke rumah, dari jalan ke jalan, dari lampu merah ke lampu merah. Siang harinya Ia akan menyebarkan selembaran yang Aku tak tahu apa isinya. Kemudian Ia akan berdandan pada petang hari, memakai kostum badut, entah kemana. Aku tak pernah mau ikut ketika diajak. Aku hanya bisa bersamanya ketika malam tiba.

Entahlah. Aku tak paham mengapa Ayah tidak bekerja kantoran, di tempat teduh ber-AC. Atau setidaknya bekerja di pabrik, yang penghasilannya lebih stabil. Berkat pekerjaannya, kulitnya yang tak tertutup pakaian jadi kecoklatan, berbelang dengan warna kulit aslinya yang putih bersih.

Setidaknya Aku bisa berbangga, karena Ayah bekerja lebih keras dari orang tua teman-temanku.

Malam itu Aku duduk berdua dengannya. Aku bercerita mengenai sekolahku hari itu sedang Ayah menulis sesuatu di secarik kertas.

“Engkau akan menjadi orang yang berguna! Percayalah!”

Aku tersenyum, berpikir bahwa Akulah yang dimaksud.

“Ini bukan untukmu, nak.” Ucap Ayah dengan enteng. Seakan Ia paham ideku.

Api hatiku padam seketikamendengar suara lembutnya itu. Perasaanku hancur.

Dengan kesal Aku bangkit meninggalkan Ayah, masuk ke kamar. Mengapa Ia menyemangati orang lain ketimbang anaknya sendiri. Kubanting pintu kamar sekeras-kerasnya. Sengaja agar Ia sadar, lalu datang menghampiriku untuk memberikan kertas itu padaku. Atau setidaknya meminta maaf. Sayangnya itu tak terjadi.

Sinar lembut mentari menembus jendela rumah yang hanya beberapa meter persegi itu. Aku telah siap berangkat sekolah, namun Ayah masih tertidur di ruang tamu. Entahlah, mengapa Ia bisa tidur lagi setelah salat Shubuh.

Aku melirik buku di tangannya, kuambil buku itu dan kuhempaskan ke sisinya. Kemudian Ia terbangun. Entah karena suara buku yang jatuh atau karena Aku mengambil bukunya.

“Kita terlambat, Ayah!” Seruku.

Ia meminta maaf, segera bersiap-siap mengantarku ke sekolah. Sebenarnya Aku bisa berangkat sendiri. Toh, Ayah tak mengantar dengan motor. Kami hanya punya sepeda. Tapi setidaknya Aku ingin bersama Ayah pagi ini.

Aku bisa mengikuti pelajaran di sekolah dengan baik, Aku juga cukup mahir di beberapa pelajaran sulit. Seperti Matematika dan Fisika misalnya. Menurutku bukan materinya yang sulit, hanya gurunya saja yang menyebalkan.

Malam hari, Aku menemani Ayah menghitung penghasilannya di ruang tamu sambil mengerjakan PR.

“Ini uang sakumu. Ayah melebihkannya sedikit.” Aku tersenyum, menerima uang itu. Namun tak lama Ia segera menyodorkan celengan, menyuruhku menabung tanpa bicara.

Aku kesal. Hari ini Aku tak ingin menabung, namun Ayah segera mengambil uang di tanganku dan memasukannya ke celengan.

“Mengapa kita tidak pernah kaya?”. Aku lontarkan itu setengah sadar. Aku terlalu kesal untuk menahannya.

“Menjadi kaya bukan tentang seberapa banyak yang kita punya.” Ayah menjawab dengan tenang, tersenyum. “Tetapi seberapa banyak yang kita beri. Saat kita memberi, kita akan merasa lebih bahagia.”

Menurutku, memberi tidak membuat seseorang bahagia. Itulah yang membuat kami hidup serba terbatas. Aku tak pernah bahagia saat memberi.

Aku sadar bahwa Aku akan terus seperti ini bila Aku tetap bergantung pada Ayah. Kuputuskan untuk belajar lebih giat, agar bisa mendapatkan beasiswa kuliah dan bekerja. Mungkin kedengarannya kasar, tapi Aku tak ingin seperti Ayah.

Masa SMA ku bisa dibilang memuakkan. Yang kulakukan hanya belajar, belajar, dan belajar. Aku tak punya banyak teman. Aku juga enggan berkenalan. Menurutku itu hanya akan mengganggu.

UjIan akhir kelas 12 sudah selesai. Hari-hari liburanku menunggu wisuda kuhabiskan dengan memantau smartphone second yang Aku beli dengan uangku sendiri – hasil joki tugas. Pun ini smartphone keluaran lama yang fiturnya sedikit, namun Aku hanya perlu berkirim Email, dan ini sudah cukup. Aku mengajukan banyak program beasiswa. Dari Universitas dalam negeri hingga mancanegara. Namun Aku tak berharap banyak. Aku hanya akan mengambil yang paling murah walaupun Universitas itu tak terkenal. Lagi-lagi masalah ekonomi.

Hari itu Ayah tak bekerja, Ia sedang kurang enak badan. Aku keluar untuk membelikannya sarapannya. Toh Aku juga sudah tak ada kegiatan.

“Aku pulang.”

Aku makan bersama di ruang tengah, duduk di lantai tanpa alas. Ayah ogah-ogahan makan buburnya, namun Aku bilang Ia harus makan agar bisa minum obat.

“Kenapa tidak beli nasi uduk saja?” Ah, benar. Harga bubur lebih mahal daripada nasi uduk. Mungkin karena itu Ia agak kesal. Namun itu mungkin juga karena Aku membelikannya nasi uduk untukku sendiri. Sepertinya Ia tidak enakkan.

Kemudian Aku mencuci peralatan makan, saat itulah Aku mendengar pintu rumah diketuk. Ada tamu?

Aku membukakan pintu. Itu Pak Supri, wali kelasku. Aku mempersilakan Ia untuk masuk dan duduk di ruang tengah ditemani Ayah. Aku kembali ke belakang untuk menyiapkan minum.

“Maaf cuma ada ini.” Aku menyajikan teh hangat kepada Ayah dan Pak Supri.

“Nak, Bacalah.” Ayah menyodorkanku secarik kertas dengan wajah sumringah. Aku bilang ingin menaruh teko terlebih dahulu, namun Ia bilang nanti saja.

Kuambil kertas itu. Kubaca perlahan kata demi kata. Aku terlonjak. Spontan kupeluk Ayah. Kami berdua menangis haru.

Isi surat itu singkat saja. Aku mendapat beasiswa penuh dari California University. Pak Supri juga bilang bahwa pihak sekolah yang akan mengurus dokumenku.

Akhirnya untuk pertama kalinya Aku merasa punya masa depan yang jelas. Aku punya kesempatan untuk berlari jauh, mengejar impian.

Akhirnya. Aku pergi.

## ## ##

“Sampai jumpa, Ayah.”

Aku menaiki eskalator bandara. Tanpa menoleh sedikit pun. Kuteguhkan hatiku. Perjalananku dimulai.

Itu belasan tahun lalu. Aku mengenangnya sambil memandang luar jendela pesawat tujuan bandara Soekarno Hatta yang kunaiki.

Bertahun-tahun Aku pergi. Berkuliah, kemudian bekerja, mengumpulkan uang, mengejar mimpiku untuk bisa membeli apapun. Aku tak pernah pulang ke Indonesia. Bahkan ketika Ayah meninggal dunia. Aku terlalu sibuk bekerja.

Entahlah. Aku tak paham mengapa sekarang Aku ingin pulang walau tak akan ada sIapapun lagi yang menyambutku. Aku hanya mengikuti kata hati.

Aku mengetuk pintu rumah tetangga Ayah. Aku dengar kunci rumah Ayah dititipkan kepadanya.

“Ini kuncinya.” Anak sang pemilik rumah yang memberikannya. Orangtuanya menatap sinis ketika Aku menyampaikan maksudku, mengenali siapa Aku. Mungkin karena Aku tak pulang saat Ayah meninggal dunia.

Aku membuka pintu rumah. Meletakkan tasku di satu-satunya kamar yang ada di rumah. Aku sadar ada sebuah kardus di sudut kamar. Karena penasaran, kubuka kotak itu. Isinya hanya surat-surat dari sebuah badan amal yang berisikan ucapan terimakasih karena telah berdonasi. Aku bingung. Mengapa namaku juga tercantum disini sebagai donatur? Aku tak pernah berdonasi kemanapun. Kita juga orang susah.

Aku memutuskan untuk pergi kesana, untuk sekedar mengonfirmasi kebenaran surat itu. Aku menemui pimpinan badan amal itu dan berbincang dengannya.

Petang hari. hujan deras menyiram kota. Aku melihatnya dari jendela taksi online yang kutumpangi. Pandanganku terpaku pada foto Ayah bersama anak-anak panti. Mereka memberikannya sebagai kenang-kenangan.

“Itu semua ayahmu yang melakukannya. Ia menyumbangkan hartanya atas namamu. Ia sengaja tak ingin kau tahu.”  Suara pimpinan badan amal itu bergemuruh lebih keras di kepalaku dibanding guntur di luar mobil.

Ia tak mementingkan dirinya sendiri dan selalu berusaha membantu orang lain. Ia rela memakai kostum badut, memberi senyuman dan tawa pada anak-anak. Ia ingin anak-anak hidup bahagia, punya harapan, tak malu bermimpi menjadi apapun. Ayahmu tak peduli dengan sakit dan sedihnya sendiri. Ia ingin anak-anak juga merasakan kehadiran seorang ayah. Ia ingin menjadi ayah semua orang.”

Benar. Aku terlalu egois. Apa salahnya jika Ayah menjadi ayah semua orang? Hujan semakin deras, menyamarkan air mataku yang juga turun.

Pada hari ulang tahun Ayah, Aku pergi ke panti, menghibur anak-anak dengan kostum badut Ayah. Jika Aku tak bisa tersenyum dengan kenangan ku bersama ayah, setidaknya Aku bisa membuat anak-anak tersenyum dengan kehadiran Ayah.

Satu yang baru kusadari. Kegembiraan mereka kian membuatku larut, membuatku bisa sejenak melupakan kesedihanku.

Saat kita memberi, kita akan merasa lebih bahagia.”

Benar, Ayah. Kau benar.

Kuusap air mataku yang tak sengaja jatuh, khawatir jika anak-anak menyadarinya. Aku menghembuskan napas, lanjut fokus menghibur. Aku harap Ayah juga tertawa disana melihat tawa anak-anak disini.

Maaf, ya, Ayah.

Tim Redaksi : Qism Shahafi

                     Aufa Fazry D

                     Ihsan Agung Nugraha

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lihat postingan lainnnya

Scroll to Top