Secangkir Teh Panas

Penulis : Aufa Fazry D.

“Papa mau Kamu jadi Dokter.”

“Kamu harus punya banyak uang saat sudah besar nanti.”

“Nanti Mama belikan sepatu kalau kamu jadi juara Kelas.”

“Kamu nggak mau dibelikan HP baru?”

“Kok nilai ujianmu tidak dapat seratus?”

“Kamu kan anak pintar, masa begini saja tidak paham?”

Math’am—tempat makan para Santri cukup ramai petang ini. Mungkin karena lauk sahurnya Ayam. Sebagian kami masih mengantri jatah ifthar, sedangkan yang lain sudah mengambil tempat. Berbaris di hadapan meja panjang.

Di hadapanku hanya ada segelas teh dan sebuah gorengan—ifthar yang dibagikan. Aku tak beli apa-apa. Bagiku ini sudah cukup.

Kulirik dalam-dalam pantulan diriku yang memancar dari air teh. Aku menghela napas. Mengapa orang-orang menaruh harapan besar padaku? Mengapa Aku tak diperlakukan sama dengan yang lain? Mengapa Aku dituntut untuk mengejar lebih? Mengapa memangnya jika Aku gagal?

Minum hingga hilang haus. Makan hingga hilang lapar. Sesederhana itu. Aku tak mengerti mengapa orang-orang mengejar kekayaaan, jabatan, dan pamor, sedangkan tenggorokan mereka basah, sedangkan perut mereka penuh.

Adzan berkumandang, Kuteguk pelan teh panasku, kemudian lanjut menggigit gorengan.

Cukup.

Bagiku, ini sudah cukup.

Sumber: Qism Tarbiyah

Tim Redaksi: Qism Shahafi

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lihat postingan lainnnya

Scroll to Top