Mona Lisa

Penulis: Hafidz Fahrizal Al Anshori

Cahaya lembut matahari membasuh bumi pagi ini. Lisa begitu semangat berangkat ke sekolah. Sesampainya di gerbang sekolah, Ia melihat sebuah mobil mewah terpakir, mobil yang sangat Ia kenali. Dari dalamnya, seorang gadis turun sambil dipapah untuk kemudian didudukan di kursi roda sopir mobil tersebut.

“Mona!” Sapa Lisa pada gadis itu, menghampiri yang disapa membalas dengan sama hangatnya.

“Biar Lisa saja, Pak Eko.” Ucap Mona pada sopirnya, Pak Eko menggangguk. “Silahkan, Non.”

Dua gadis itu menyusuri lorong sekolah. Sudah menjadi pertunjukkan biasa bagi siswa di SMA itu. Lisa dan Mona sudah bersahabat sejak kecil. Lumpuhnya Mona tak membuat persahabatan mereka luntur. Justru malah membuatnya semakin kuat, indah, dan jujur.

Kemanapun Mona pergi, pasti ada Lisa yang mendampinginya. Mereka sudah seperti saudara kandung. Bahkan tuhan takdirkan mereka satu kelas. Mona anak tunggal. Sedangkan Lisa punya kaka tiri—ayahnya bilang begitu—, namun tidak tinggal bersama. Bahkan Lisa belum pernah melihatnya.

Sudah jadi kebiasaan mereka saling mengunjungi setiap pekan. Namun akhir-akhir ini Mona merasa janggal dengan Lisa, karena Lisa tak dapat dikunjungi. Ketika ditanya, Lisa menyampaikan beragam alasan.

Hari itu, sekolah sudah lenggang. Sudah tiga puluh menit sejak bel pertanda pulang sekolah. Pak Eko bilang lewat telepon kalau ban mobilnya bocor, jadi akan terlambat. Lisa dan Mona bosan menunggu di gerbang, memilih berkeliling sekolah.

Ketika tiba di sekolah, mereka mendengar suara-suara aneh dari belakang gedung. Mona takut-takut, namun Lisa memberanikan diri, bilang tak akan ada apa-apa.

“Willy?!” Mereka berseru terkejut setelah melihat si pembuat suara. Sedang berkutat dengan buku-buku.

Ia kakak kelas mereka, kelas sebelas. Ia sangat jarang terlihat di sekolah. Terkenal dengan kenakalannya dan sering bolos. Namun selalu mendapat nilai tertinggi saat ujian.

“Aku bosan pelajaran di kelas begitu-begitu saja, jadi aku menguping materi kelas 12.” Jawabnya ketika Lisa dan Mona bertanya tentang bolosnya.

Ah, dari sana ternyata asal nilai tingginya Willy. Pikir Mona, Ia sebenarnya siswa yang ambisius, cerdas, dan rajin. Terlampau rajin. Hingga bolos kelas untuk mendengar materi yang sebenarnya akan Ia dengar tahun depan. Willy memang tidak disebut nakal karena suka mengganggu teman, Ia hanya suka membangkang pada guru. Entahlah. Willy bilang pada Lisa dan Mona kalau kurikulum Indonesia bermasalah. Mereka hanya angkat bahu, tak tahu-menahu dengan kurikulum (Lisa bahkan salah sebut—kuliminum).

Mereka asyik mengobrol di gedung belakang itu hingga petang. Mungkin mereka akan tetap disitu jika Pak Eko tidak telepon, Jerih berkeliling sekolah. Mona merasa nyaman dengan Willy. Ia menyenangkan, pun perhatian—Ia sempat tertegun ketika Willy menyingkirkan laba-laba yang hinggap di pundaknya. Willy juga tak menatap dengan aneh atau mengejek kepada Mona yang memakai kursi roda. Mona punya teman baru hari ini.

Lisa dan Mona jadi sering mengunjungi Willy sepulang sekolah. Hanya sebentar, hingga Pak Eko menjemput. Namun mereka tetap senang. Tak puas bertemu hanya setelah pulang sekolah, mereka mulai menemuinya saat jam istirahat.

Namun lama-kelamaan Mona hanya sendirian mengunjungi Willy. Lisa tak mau ikut. Ia sibuk bekutat dengan buku tulisnya. Entah apa yang ditulisnya. Mona mulai merasa bersalah dengan sikapnya meninggalkan Lisa. Maka Ia menghentikan jalannya menuju Willy, kembali ke kelas.

“Dimana Lisa?” Tanya Mona pada teman kelasnya. Tak ada Lisa di sana. Temannya bilang sudah pulang. Mona mencari ke seluruh sekolah. Tak mungkin Lisa bisa pulang sendirian, karena Ia selalu pulang bersama Mona.

 Ketika Mona sudah lelah berkeliling area sekolah, Ia terbesit ke suatu tempat. Entah mengapa.

Ia kayuh roda kursinya dengan tangan menuju tempat itu. Belakang sekolah. Ia benar. Lisa ada disana. Bersama Willy. Mona ingin menghampiri, namun Ia urungkan. Ia merasa ada yang tak biasa, memutuskan mengintip.

Mona memperhatikan. Lisa geleng-geleng kepala, entah menolak atau tak percaya. Kemudian Willy berbicara, menjelaskan. Lisa akhirnya runtuh. Air matanya menetes, tersenyum. Dua detik, Ia menyergap Willy, memeluknya erat sekali. Willy membalasnya. Ia usap perlahan ubun-ubun Lisa.

Mona bagai tersetrum petir di siang bolong. Hatinya bingung, namun air matanya menetes. Ia segera pergi meninggalkan. Lisa dan Willy melepaskan pelukan, mendengar ada suara di balik tembok.

Mona kayuh kursinya secepat yang Ia bisa. Tanpa arah. Ia tak paham hatinya sendiri. Mengapa Ia menangis? Apa Ia cemburu? Apa Ia sakit hati karena yang mengambil hati Willy adalah sahabatnya sendiri? Apa Ia menyukai Willy?

Akalnya terbang bersama burung-burung petang itu. Tanpa sadar dimana sekarang dirinya.

Brak!

~~-~~

Mona akhirnya membuka mata. Ia di rumah sakit. Ayahnya bilang Ia koma satu bulan. Mona terlonjak, namun itu sudah terjadi. Ayahnya juga bilang kalau Ia baru bisa pulang beberapa minggu lagi.

Mona menghabiskan masa pemulihannya dengan baik. Bebepara teman sekolah mengunjunginya. Juga keluarga jauhnya. Namun ada satu yang mengganggu pikiran Mona.

Lisa tak datang menjenguk.

Hingga masa pemulihannya selesai, Lisa tak pernah nampak batang hidungnya. Kadang Mona kesal memikirkannya. Apa Lisa tak tahu kalau sebabnya lah Mona masuk rumah sakit?

Mona akhirnya kembali bersekolah. Ia bersiap untuk bertemu Lisa. Ia bingung. Ia sebenarnya kesal karena Lisa tak menjenguknya. Juga karena hari itu. Namun Ia tetap kangen Lisa.

Nihil. Lisa tak masuk sekolah.

Bangkunya kosong. Teman-temannya ogah-ogahan menjawab. Itu firasat Mona. Teman-temannya seakan menutupi sesuatu. Ia menyerah, juga sibuk mengejar materi yang tertinggal selama Ia koma.

Kesabaran Mona sudah habis. Ia datangi rumah Lisa. Pak Eko mengetuk pagar, sedangkan Mona yang memanggil nama penghuni rumah.

Terkejut bukan main gadis itu melihat yang keluar adalah Willy. Wah, cinta monyetnya sudah tidak tertolong. Gumam Mona.

“Dimana Lisa?” Mona bernada galak.

 “Sudah pulang.” Jawab Willy lesu.

“jangan bercanda! Aku sedang serius!”

Willy membuka pagar lebih lebar, menyuruhnya masuk.

“Ibunya Lisa sendirian. Jadi ayah menyuruhku tinggal disni.” Mona tak paham dengan kalimat pembuka Willy, lima detik setelah mengambil posisi ruang tamu.

“Dia menulis surat untukmu,” Willy menyodorkan secarik kertas.

Hai, Mona! Apa kamu baik-baik saja? Kuharap begitu. Aku mohon maaf atas semuanya, termasuk untuk kenangan buruk yang kau lihat sebelum kecelakaan itu. Aku harap kau tak salah paham. Willy adalah kakak tiri ku. Aku sedih karena tak dapat menemuimu. Tetapi Aku senang kau dapat melihat bersamamu.

Yang menganggapmu sahabat, Lisa.

Mona menoleh kasar pada Willy. Willy paham Mona kebingungan.Ia akhirnya bersedia menjelaskan. Namun setiap kalimat yang terlontar pada Mona terasa seperi jarum.

Mona menangis sejadi-jadinya. Willy menyarankan Pak Eko agar Mona dibawa pulang. Willy mengantarkannya hingga depan rumah. Sebelum pulang, Willy membisikkan sesuatu pada Mona.

Jangan menangis. Nanti Lisa juga menangis.

Mobil Mona melenggang , meninggalkan Willy. Membelah kesunyian petang itu.

Mona menatap kosong jendela mobil. Ucapan Willy masih menggema di telinganya.

Lisa sakit kanker, hidupnya tinggal sebulan lagi waktu itu. Pengeliatan Mona rusak karena kecelakaan waktu itu. Lalu Lisa menyumbangkan matanya.

Mona meremas jarinya semakin keras, tak ada yang bisa Ia lakukan.

Takdir sudah lama tutup buku.

Willy masih memandangi mobil Mona beberapa saat lagi. Kemudian Ia masuk ke rumah.

Tangisnya pecah.

Ia berusaha tampak kuat di depan Mona agar tak semakin membuatnya sedih. Namun Ia juga lemah. Ingin sekali Ia mencerca langit. Ia masih tak terima karena baru diberi tahu tentang penyakit Lisa setelah Lisa meningggal. Walaupun Lisa yang meminta dirahasiakan. Andai Willy tahu, ia akan terus-menerus menghabiskan waktu bersama Lisa, Ia akan beritahu Lisa kalau Ia adalah kakak tirinya, Tuhan sudah menyuruhnya pulang.

Lagi-lagi, takdir sudah tutup buku.

~~-~~

Seminggu kemudian, Willy mendatangi rumah Mona. Ia tak bicara apapun. Hanya memberikan sebuah buku pada Mona.

Mona membaca halaman pertama buku tulis tersebut.

2 Agustus

Aku divonis kanker. Andai Aku tidak sakit, mungkin Aku tak akan menulis diary. Di sisa hidupku yang tak akan lama ini, Aku ingin mengulang semua kenangan indahku melalui tulisan, semoga tak ada hal buruk terjadi.

Mona membaca halaman demi halaman dengan sangat perlahan. Sebagian besar buku itu berisi kenangan. Sisanya berisi curhatan hatinya waktu itu. Hati Mona teriris oleh setiap kenangan indah yang Lisa tulis. Awal mula mereka berdua bertemu, bagaimana mereka berdua bersama, menangis bersama, hingga hal-hal yang Mona anggap sepele namun sangat membekas di hati Lisa.

Buku itu terhenti pada hari sebelum perginya Lisa.

Akhirnya Ayah mengizinkan untuk mendonor kepada Mona. Semoga kita bisa terus bersahabat, ya, Mona!

Mona mengangguk. Tentu, Lisa.

Willy memacu motornya secepat yang Ia bisa. Jangan tanya apakah Willy tahu isi buku itu. Ia sudah membacanya sepuluh kali sejak Ibunya Lisa memberikannya.

Kali ini, Willy akan benar-benar mencerca langit.

Pengembang: Aufa Fazry

Tim Redaksi: Qism Shahafi

  • Saya

    Mama Aku masuk Oshan magazine!
    Btw itu tulisannya Lisa (surat ato diary) di italic aja.
    Sama ada teks sebelum pembatas latar kedua yg tentang Willy setelah mona pulang itu narasinya begini:
    ” Baru ia beritahu Lisa kalau Ia adalah kakak tirinya, tuhan sudah memanggilnya pulang.”
    Di sini tulisannya :
    “Ia akana beritahu Lisa…”
    Udh typo, tru klo dibenerin gk nyambung.
    Yaudh itu aja
    hehe
    semangat lemburnya🥰🥰

    • Syukon akhi atas koreksiannya, Insya Allah kita akan lebih teliti lagi 🙂

      • Yg kemaren

        Mas ini udh bulan maret mas, kapan mau revisi?

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lihat postingan lainnnya

Scroll to Top