Echoes Of Language

By : Ihsan Agung Nugraha

“Imagine, how You spent your days, travelling aboard calmly while your money is held by the Bank. You put all your bucks on them and decided to trust them. And in another side, they were just displaying all number of your save. I said ‘just displaying’. Who knows if they truly had our money?” Aku mengetuk mic, membangunkan kesadaran audiens.

Terhenti sejenak, kenangan itu muncul kembali. Dulu Aku benar-benar membencinya untuk kemudian kupeluk erat di kemudian hari.

Gedung Putih AS masih ramai bahkan saat jam makan siang seperti sekarang. Aku menutup pidato ku setengah jam yang lalu untuk melanjutkan perjalanan ke Timur Tengah, mengisi seminar. Sembarang mengambil buku mengisi waktu luang diatas taksi.

“Jangan Ente ulangi lagi, ya. Abis ini Ente tulis di kertas selembar, 30 mufrodat, plus 5 kalimat sempurna dalam 3 bahasa. Hapalin. Entar disetor ke Ane. Lusa kalo belum jadi Ente masuk daftar pelanggar.” Aku menatap teman disampingku, ia mengajak ku mengobrol di kantin siang itu. Tanpa sadar membuat kami berdua berkumpul di lapangan di malam harinya untuk hukuman.

Kantin adalah area wajib berbahasa Arab atau Inggris di sekolahku. Bahkan ‘mengaduh’ pelan saja termasuk pelanggaran. Membiasakan kami mempraktikan apa yang dipelajari di kelas.

Itu 27 tahun yang lalu. Umurku 15. Membenci pelajaran bahasa asing. Buat apa pula mempelajari sesuatu yang tidak kugunakan? Pikirku saat itu.

17 menit di taksi memberi ku ruang untuk merenung bahwa apa yang ku hafal dengan dongkol itu membuat banyak orang termasuk diri ku sendiri bangga hari ini.

“Take it, Sir. Tip for you” Aku menutup pintu mobil. Bersegera menuju boarding gate.

Pesawat menuju Dubai terbang 5 menit lagi.

Tim Redaksi : Qism Shahafi

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lihat postingan lainnnya

Scroll to Top